Wednesday, November 9, 2011

Bermisi secara Strategis

Manati I. Zega dalam Majalah Bahana Edisi April 2011, menulis tentang misi demikian: “Misi merupakan hal yang amat penting bagi kehidupan gereja. Menilik sejarah, gereja ada karena misi. Gereja juga akan tetap ada karena misi yang terpelihara secara konsisten. Bila misi berhenti, mungkin saja dalam waktu yang tidak lama gereja tinggallah nama. Nama yang tercatat dalam perjalanan sejarah dunia ini. Berarti misi harus tetap berlangsung. Misi juga harus tetap dilaksanakan sesuai dengan konteks kita. Akan tetapi, untuk melakukan misi banyak tantangan. Realisasi misi tidak segampang membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan agar misi tersebut menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Artinya, misi tetap terlaksana tanpa menimbulkan keresahan di masyarakat. Tentu, hal ini tidak mudah. Karena itu, misi tidak boleh dilakukan secara gegabah. Tuhan Yesus sang inisiator misi pun tidak luput dari beragam tantangan terutama tantangan dari ahli-ahli agama. Namun, DIA tetap konsisten pada misi-Nya. Kegigihan menjalankan misi membawa-Nya naik ke atas salib. Di sana DIA mencurahkan darah kudus demi penebusan dosa umat manusia. Sebuah teladan yang tidak boleh diabaikan oleh setiap orang yang akan menjalani misi di tengah dunia ini. Dalam konteks sekarang, misi harus dilakukan dengan cerdas. Artinya, misi perlu dilakukan dengan kreatif agar bisa sampai tepat sasaran tanpa menimbulkan gejolak sosial. Jangan sampai pelaksanaan misi menimbulkan konflik horizontal di masyarakat. Karena itu misi kiranya dilakukan dengan sangat-sangat hati-hati dan penuh hikmat Tuhan.” Dengan kata lain, dalam melaksanakan misi, Gereja harus menggunakan strategi, minta hikmat dari Tuhan dan mengandalkan Roh Kudus serta melakukan survey kebutuhan di masyarakat. Bermisi secara strategis merupakan cara yang digagas dan diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus kepada Gereja. Di sinilah letak keberhasilan misi Tuhan melalui Gereja. Yesus secara tegas mengatakan: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” – Matius 10:16. Dalam buku Misi Kristen, Dr. Bambang Eko Putro, memberikan penjelasan tentang Matius 10:16 sebagai berikut: “Kata “cerdik” berasal dari bahasa Yunani, yaitu phronimos yang berarti bijaksana atau berhati-hati. Ular adalah binatang yang sangat berhati-hati, khususnya pada saat terpojok oleh binatang pemangsa lainnya. Berbagai strategi pertahanan digunakannya untuk membela diri dan mengusir mangsanya. Strateginya adalah mendesis, menggetarkan ekornya, atau menyembunyikan kepalanya dalam gulungan badannya. Sedangkan kata “tulus” berasal dari bahasa Yunani, yaitu akeraios yang berarti murni dan tidak berbahaya. Merpati adalah lambang kehadiran Roh Kudus (Mar. 1:10; Kis. 2) dan lambang kemurnian hati. Jadi, “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” merupakan strategi “domba” Kristus di tengah-tengah ganasnya “serigala” agar kita bijaksana dan berhati-hati dalam melaksanakan misi Kristus tetapi harus tetap memiliki ketulusan dan kemurnian hati.” Gereja sebagai duta Kristus di dunia ini harus melaksanakan pelayanan misinya dengan cerdas, efektif dan benar. Pelayanan misi yang efektif menurut William Carrey – tokoh misi modern – dalam buku Transformasi Misi yang ditulis oleh David J. Bosch, menjelaskan bahwa: “1) Misi yang efektif itu didasarkan atas suatu konsep teologi yang Alkitabiah, yang menghasilkan doa sekaligus tindakan; 2) Misi yang efektif itu dijalankan melalui perantaraan lembaga pendukung gereja yang memiliki komitmen terhadap Firman Allah; 3) Misi yang efektif itu hendaknya berpusatkan pada penerjemahan dan penyebaran Firman Allah; 4) Misi yang efektif itu didukung oleh satu kesatuan visible di antara orang-orang yang meyakini Firman Allah; 5) Misi yang efektif itu bergantung pada gereja-gereja nasional dan para pemimpin pribumi yang telah dimuridkan oleh Firman Allah; 6) Misi yang efektif itu hendaknya menunjukkan suatu kepekaan cultural yang sejalan dengan Firman Allah; 7) Misi yang efektif itu bersumber dari suatu cara hidup yang berpolakan inkarnasi Firman Allah.” Mencermati gagasan William Carrey tentang misi efektif di atas, maka dapat dikatakan bahwa keefektivan dan kesuksesan misi Gereja sangat ditentukan oleh bangunan teologi misi Alkitabiah. Ditambah dengan komitmen teguh dari Gereja terhadap Alkitab sebagai firman Allah yang tidak dapat salah. Pemberitaan Injil yang konsisten dan terus-menerus. Menterjemahkan firman Tuhan ke dalam bahasa suku. Visi yang dibangun di atas landasan firman Tuhan. Gereja saling terkoneksi secara dinamis dan bekerjasama dalam pelayanan misi. Multiplikasi pemimpin lokal melalui proses pemuridan. Tingkat kepekaan Gereja terhadap perubahan cultur/budaya yang sesuai dengan firman Tuhan perlu dipertajam. Hal di atas menjadi sangat penting dan menentukan. Mengapa? Karena ada kecenderungan Gereja tidak terlalu peduli dengan pengaruh dan perkembangan zaman. Bahkan para pemimpin Gereja tidak terlalu mempermasalahkan dinamika zaman ini. Mereka hanya sibuk dengan urusan-urusan organisasi. Sementara tanda dan pergerakkan zaman yang membahayakan dan mengancam Gereja tidak diurus. Namun, jauh sebelum zaman Gereja, Yesus telah memberikan koreksi, teguran dan kritik kepada komunitas Farisi dan Saduki yang tidak bisa membedakan tanda-tanda peralihan zaman. Mereka gagal melihat era baru yang sedang berlangsung melalui kehadiran dan karya Yesus. Padahal zaman tersebut sudah dinubuatkan dan dinantikan dalam Perjanjian Lama. Lalu digenapi dalam Perjanjian Baru melalui inkarnasi Yesus Kristus. Matius tegas menulis demikian: “Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak” Matius 6:2-3. Dunia terus berubah, namun Gereja kurang peka terhadap perubahan tersebut. Gereja merasa cukup nyaman dengan warisan Firman Tuhan yang tidak pernah berubah, tanpa berpikir bagaimana “yang tidak berubah” tersebut bisa mengubahkan dunia yang terus berubah. Berkaca dari antisipasi di atas, sebuah nasehat kuno mungkin perlu didengungkan sekali lagi: “kalau orang Kristen membaca Alkitab, hendaklah di sebelahnya ada koran/majalah dan di depannya ada televisi”. Nasehat ini selaras dengan doa Yesus supaya Gereja tetap ada di dalam dunia, meskipun Gereja tidak dimiliki oleh dan berasal dari dunia – Yohanes 17:14-18. Gereja harus peka terhadap perubahan zaman beserta dengan tantangan dan peluang yang ada di dalamnya. Gereja harus berani keluar dari zona kenyamanan mereka dan mulai menengok apa yang sedang terjadi di luar gedung gereja. Dalam bukunya, "Planning Strategies for World Evangelization", Edward R. Dayton dan David A. Fraser menulis sepuluh langkah yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan perencanaan strategi penginjilan. Kesepuluh langkah itu ialah: “pertama, tentukan misi yang akan dilakukan; kedua, tentukan orang-orang yang akan dijadikan sasaran; ketiga, tentukan tenaga yang akan dipakai untuk penginjilan; keempat, telitilah sarana dan metode penginjilan yang akan digunakan; kelima, tetapkan pendekatan yang akan dipakai; keenam, perhitungkan hasil-hasil yang diharapkan; ketujuh, lakukan pembagian tugas; kedelapan, buatlah rencana; kesembilan, bertindaklah; dan kesepuluh, adakan evaluasi.” Perubahan zaman ini menuntut pelayanan misi yang tidak berubah, tetapi dengan metode yang dinamis. Di era apa pun, Injil yang kita beritakan adalah Injil yang sama dan satu serta tidak pernah berubah. Injil yaitu Kabar Baik tentang keselamatan yang telah dikerjakan oleh Allah di dalam Yesus Kristus dan yang ditawarkan oleh Allah kepada manusia. Injil yang utuh tentang Kristus yang utuh bagi keselamatan manusia yang seutuhnya pula. Bermisi secara strategis meliputi: Temui Orang Ditempat Dimana Mereka Berada Dunia tidak bisa datang dan masuk ke dalam komunitas gereja. Gerejalah yang harus keluar mendatangi orang-orang ditempat dimana mereka berada. Pola tersebut telah dipraktekkan oleh Tuhan Yesus. Ia turun dari sorga, meninggalkan/mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia – Filipi 2:5-8. Firman itu menjadi manusia, diam di antara manusia dan mengalami apa yang dirasakan oleh manusia – Yohanes 1:14. Ia datangi manusia di tempat dimana manusia berada. Yesus berkeliling dari desa yang satu ke desa yang lain dan dari kota yang satu ke kota yang lain. Ia menemui orang-orang yang membutuhkan pelayanan-Nya. Dan setiap kali Ia bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan-Nya, Dia pasti melakukan sesuatu yang membawa pemulihan, bukan saja secara fisik/materi tetapi juga secara rohani. Gereja harus menjangkau orang-orang bagi Tuhan. Tidak pasif menunggu di tempat. Gereja tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri. Sibuk dengan urusan-urusannya sendiri, lalu melupakan orang-orang di sekelilingnya yang sedang membutuhkan Yesus. Gereja harus aktif pergi mendatangi orang-orang ditempat dimana mereka berada dan mengajak mereka untuk datang kepada Tuhan Yesus Kristus sesuai Amanat Agung. Tahu Kebutuhan Mereka Yang Didatangi Manusia berada dalam dilemma yang multidimensi. Kehilangan pengharapan dan tidak punya tujuan hidup yang jelas. Tekanan hidup yang meningkat tajam dari aspek ekonomi menambah daftar panjang kesulitan manusia. Merebaknya wabah penyakit menular, kemiskinan, ketidakadilan sosial, bencana alam adalah problem manusia yang tidak dapat dihindari. Itu sebabnya tingkat bunuh diri melonjak. Belum lagi peredaran narkoba (red - narkotika dan obat-obat terlarang) menjadi bahaya laten bagi siapa saja. Pergaulan bebas dan free sex mengancam rusaknya moral anak bangsa. Gereja harus peka dengan kebutuhan orang-orang pada zaman sekarang. Kepekaan ini menolong Gereja untuk mengatur langkah dan menyusun strategi pelayanan yang cocok dan dinamis. Gereja dalam upaya melaksanakan misinya, harus menawarkan produk yang bernilai. A. Naftallindo dalam buku Misi Di Abad Postmodernisme, menulis: “Misi sesungguhnya dengan kata lain adalah kita hendak menawarkan sesuatu kepada orang lain yang kita anggap belum memiliki apa yang kita miliki. Sebab kita meyakini bahwa apa yang kita miliki adalah sesuatu yang menentukan nilai akhir seseorang (selamat atau binasa).” Cara bagaimana kita menawarkan inilah yang seharusnya kita lebih berhikmat. Karena yang menjadi sasaran kita ialah manusia berdosa. Ketika Adam dan Hawa gagal melakukan kehendak Tuhan, Tuhan tidak membiarkan mereka begitu saja. Dosa memisahkan dan memutuskan relasi rohani. Allah memahami keadaan mereka. Itu sebabnya, Tuhan mencari dan menemui mereka. Pada sisi lain, Tuhan juga menyamakan diri dengan manusia. Inkarnasi Yesus merupakan representantif dari hal itu. Dia menyamakan diri secara total dengan manusia. Budiman R. L. dalam buku Pelayanan Lintas Budaya dan Kontekstualisasi, mengutip pandangan Petrus Octavianus (1985:17), menulis: “Puncak kerinduan Allah untuk berkomunikasi dengan manusia diwujudkan dalam kehadiran-Nya sendiri di antara manusia. Ia yang Mahasuci sedia memasukkan diri-Nya ke dalam kebudayaan manusia. Ia bahkan menjadi Manusia Sejati yang berkomunikasi dengan masyarakat lindungan-Nya sesuai dengan bahasa dan kebudayaan mereka.” Tentu ada perbedaan yang signifikan antara Yesus dengan manusia. Bedanya ialah Yesus tidak berdosa, tidak melakukan dosa dan tidak hidup dalam dosa. Yesus Sang Firman rela kehilangan hak-hak-Nya. Hidup yang ekslusif ditinggalkan dan ditanggalkan. Mengalami segala keterbatasan manusia seperti rasa haus, lapar, lelah, takut menghadapi kengerian penyaliban dan sampai mati di atas kayu salib. Yesus mengutamakan kepentingan manusia dengan mengorbankan kepentingan-Nya sendiri, demi menyelamatkan manusia berdosa dari murka Allah. Semua itu ditempuh supaya Yesus dapat memahami dan merasakan pergumulan manusia sepenuh dan seutuhnya. Kontekstualisasi Tuhan menjadi landasan yang teguh bagi Gereja untuk melakukan misinya. Semangat ini harus diresponi dengan sungguh dan diimplementasikan secara dinamis, sehingga Injil boleh diberitakan. Berkaitan dengan hal tersebut, Budi R. L., dalam buku yang sama, menulis: “Sama seperti Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui kebudayaan Yahudi, demikian juga kita ingin menyatakan Allah kepada suku-suku yang belum mengenal Yesus melalui kebudayaan mereka. Oleh karena itu, kontekstualisasi merupakan suatu prinsip ilahi yang diwujudkan dalam penjelmaan Yesus. Inkarnasi Yesus tidak hanya memberi teladan kepada kita, tetapi juga memerintahkan kita untuk mengikuti teladan-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu!” – Yohanes 20:21. Berita yang kita sampaikan harus didukung dengan cara dan gaya hidup yang telah dibarui. Rasul Paulus memahami makna hakiki dari kontekstualisasi. Metode ini menjadi jembatan baginya untuk memahami hidup sesamanya. Dengan cara demikian, ia dapat memenangkan jiwa bagi Tuhan. Tentang kontekstualisasi, Paulus menulis dalam salah satu suratnya demikian: “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” – 1 Korintus 9:19-23. Membentuk Relasi Baru dalam Komunitas Pada zaman Gereja perdana, terjadi perbedaan yang sangat signifikan dalam tataran sosial. Terjadi jurang yang menganga lebar antara kelompok kaya dan komunitas miskin. Pula antara majikan/tuan dan hamba/budak. Ini menyebabkan tidak terjadinya koneksi yang harmonis dan dinamis. Dr. Bambang Eko Putranto, dalam buku Misi Kristen, menulis: “Namun kekristenan melenyapkan batasan-batasan tersebut. Ajaran Kristen tidak membuat jurang pembatas karena hal-hal itu tadi. Mereka semua bersatu hati dalam persekutuan Kristen. Hal ini menimbulkan dukungan dan simpati yang kuat dari masyarakat arus bawah.” Mereka membuat dan membangun relasi baru dalam komunitas. Dampaknya luar biasa. Cara demikian diberkati Tuhan, sehingga setiap hari terjadi pertumbuhan kuantitas dalam komunitas Gereja mula-mula. Pada zaman akhir ini, banyak Gereja yang tidak didukung oleh masyarakat arus bawah. Bahkan masyarakat arus bawah tidak lagi bersimpati dengan pelayanan Gereja. Kehadiran gereja seolah dianggap sebagai musuh yang mengancam mereka. Gereja sudah selayaknya menggugat diri, mengoreksi diri dan memberi makna baru akan kehadirannya. Ini merupakan salah satu cara agar gereja merebut hati manusia. Salah satu caranya ialah membuat dan membangun relasi yang baru dalam komunitas di mana Gereja berada. Ini satu hal yang tidak bisa lepas dari manusia. Ciri Gereja yang sehat dapat dilihat dari interaksi di dalamnya. Interaksi antar umat di dalamnya dan juga interaksi antara Gereja dengan komunitas di luar dirinya. Semakin luas dan dalam koneksi yang terjadi, semakin kuat ikatan emosional di antara orang Kristen dan dunia. Dinamika ini menjadi sarana bagi Gereja untuk melaksanakan misinya kepada dunia. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun jejaring dengan orang lain yaitu: pertama, tidak menganggap diri lebih baik dari orang lain; kedua, mau belajar dari orang lain; ketiga, merangkul perbedaan; keempat, konsisten menjadi terang dan garam dunia. Kekristenan bukanlah sekadar rangkaian perjalanan kita melakukan ritual. Misi kita harus peka terhadap perubahan dunia. Kepekaan ini membantu kita untuk menyusun langkah-langkah strategis dan dinamis, guna memberikan jawaban terhadap kebutuhan dunia yang semakin kompleks. Misi Gereja yang peka zaman hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tetap menjaga kesadaran. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja bisa melaksanakan misinya.

No comments:

Post a Comment

Subscribe Now: Feed Icon