Friday, November 11, 2011

Apa Sebenarnya Hakikat Misi Itu?

Misi adalah manifestasi Kristus kepada dunia. Kristus datang memproklamasikan fiman Allah, hidup Kristus, bahkan Kristus sendiri adalah firman Allah yang diproklamasikan. Pelayanan Kristus merupakan ungkapan firman dalam tindakan sosial yang aktif. Perhatikan ayat yang dipilih Tuhan Yesus dalam permulaan pelayanan-Nya, yaitu ayat dari Kitab Yesaya, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik ... dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan ..." (Lukas 4:16-17). Bagaimana bentuk-bentuk konflik yang dapat terjadi dalam misi? Terlalu mementingkan soal kesaksian dan pelayanan. Kompromi teologi. Terlalu menekankan aksi sosial. Penekanan perbaikan kehidupan tanpa penebusan. Bentuk-bentuk di atas adalah serangan-serangan yang dilakukan secara tidak langsung pada dasar misi. Serangan langsung terhadap kewibawaan firman Tuhan. Ini adalah bentuk serangan yang paling populer dan tampaknya menjadi suatu kecenderungan yang terjadi di gereja-gereja Tuhan masa kini. Bentuk serangan ini, antara lain: Memberikan kesibukan dalam tugas kependetaan. Mengabaikan pentingnya pekabaran Injil (PI). Iblis berusaha menentang proklamasi Injil di dunia modern. Mereka "menghaluskan" tugas mengabarkan Injil dengan perkataan bahwa "gereja memang harus hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai saksi, tetapi tidak perlu terang-terangan. Itu cukup dilakukan dengan cara gereja menyatakan bahwa gereja hadir di tengah-tengah masyarakat". Cara lain yang dipakai adalah dengan mengutamakan toleransi di atas segala sesuatu. Cara lainnya lagi adalah dengan menampilkan suatu bentuk ajaran (atau dapat juga praktik kehidupan) kristiani tanpa Kristus. Cara yang terakhir ini sesungguhnya adalah upaya gereja untuk menawarkan garam dan menutupi terangnya sendiri. Tapi sayangnya orang-orang yang demikian akan begitu disanjung dan dihormati di gereja karena merekalah yang dianggap sebagai orang yang "bijaksana" dan "juru damai". Tetapi kita tidak boleh ditipu dengan cara-cara iblis yang demikian. Kita tidak boleh mengganti Mesias yang tersalib dan menderita karena kasih dengan mesias-mesias palsu yang mengobral kasih murahan. Kita harus lebih takut pada Allah yang sudah memberikan kasih sejati di atas Bukit Golgota melalui karya Kristus di salib. Berita Injil tanpa salib. Bentuk serangan iblis di zaman modern ini adalah pemberitaan Injil tanpa salib. Yang ada hanyalah sukacita, kemakmuran, kepuasan, kesenangan diri, pemenuhan hawa nafsu, dan berbagai ajaran yang menghujat Allah Tritunggal. Kita harus ingat bahwa salib adalah kemenangan Allah. Karena itu sangat mustahil jika ada orang Kristen yang mengaku dapat hidup berkemenangan tanpa Salib, karena "... di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Yang kita beritakan adalah Kristus yang disalibkan, dan "pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohoan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuataan Allah" (1 Korintus 1:18). Serangan terhadap pelayanan firman Tuhan di dalam gereja. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman, siapakah yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita, bahwa mereka yang tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka" (Ibrani 3:15-19). Cara kita memikirkan tugas sangatlah memengaruhi cara yang kitagunakan untuk menyelesaikannya. Dalam bukunya, "Planning Strategies for World Evangelization", Edward R. Dayton dan David A. Fraser menulis sepuluh langkah yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan perencanaan strategi penginjilan. Kesepuluh langkah itu ialah: (1) tentukan misi yang akan dilakukan; (2) tentukan orang-orang yang akan dijadikan sasaran; (3) tentukan tenaga yang akan dipakai untuk penginjilan; (4) telitilah sarana dan metode penginjilan yang akan digunakan; (5) tetapkan pendekatan yang akan dipakai; (6) perhitungkan hasil-hasil yang diharapkan; (7) lakukan pembagian tugas; (8) buatlah rencana; (9) bertindaklah; dan (10) adakan evaluasi. Perhatikan, langkah pertama adalah menentukan misi yang akan dilakukan. Di antara para penginjil dan misionaris maupun pekerja Kristen, terdapat banyak orang yang aktif. Mereka ingin langsung menggunakan langkah Dayton dan Fraser yang ke-9. Sikap seperti ini patut dihargai. Tanpa para aktivis yang bersemangat dan kurang sabar seperti mereka itu, pekerjaan Tuhan tidak akan pernah terselesaikan.Tetapi segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah kita pikirkan terlebih dahulu, berpikir dan bekerja merupakan dua hal yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Bahkan para pemain sepakbola yang sangat aktif pun memikirkan lebih dahulu strategi yang akan mereka pakai sebelum mereka terjun kelapangan untuk bertanding. Membuat rencana permainan terlebih dahulu tidak akan mengurangi semangat dan kegiatan mereka dalam pertandingan, tetapi menjadikannya lebih terkontrol. Prinsip yang sama juga berlaku untuk perkembangan gereja. Karena itulah kita perlu benar-benar memahami maksud dari misi yang akan kita lakukan. Hal itu merupakan bagian yang penting dari perencanaan strategi perkembangan gereja.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

Subscribe Now: Feed Icon